Bukan Sekadar Program, TII Dorong Anak Muda Jadi Agen Perubahan Kesehatan Reproduksi

banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id  – Masa depan bangsa ditentukan oleh seberapa sehat dan siap generasi mudanya. Pesan itu mengemuka dalam The Indonesian Forum Seri 123 bertajuk “Peran Orang Muda dalam Pendidikan Kesehatan Reproduksi di Indonesia” yang digelar The Indonesian Institute, Center for Public Policy Research (TII), Selasa (26/8/2025).

Para narasumber menegaskan, pendidikan kesehatan reproduksi tak boleh lagi dipandang sebagai program formal semata. Anak muda harus hadir sebagai subjek aktif: penyebar informasi, penggerak perubahan, sekaligus mitra pemerintah dalam meruntuhkan stigma yang membatasi akses pengetahuan.

“Kurikulum kesehatan reproduksi tidak bisa seragam. Harus menyesuaikan budaya, karakteristik sosial, bahkan pola penyakit tiap daerah. Aspirasi anak muda wajib menjadi bagian dari kebijakan agar tercapai pembangunan berkelanjutan,” ujar Made Natasya Restu Dewi Pratiwi, Peneliti Bidang Sosial TII.

Minimnya pengetahuan kesehatan reproduksi dinilai membawa dampak serius, mulai dari meningkatnya kasus kekerasan seksual, pernikahan dini, hingga perilaku seksual berisiko di kalangan remaja.

Yuniarini, Penata Kependudukan dan KB Ahli Madya BKKBN, mengingatkan pentingnya memahami kesehatan reproduksi secara utuh.

“Remaja harus mampu mengenali tubuhnya, memahami perubahan, dan berani mengambil keputusan yang tepat tanpa takut dihakimi. Pendidikan reproduksi harus akurat secara medis, sesuai usia, dan relevan dengan budaya,” ujarnya.

Kenyataan di lapangan diperkuat oleh Tata Yunita, Founder Tenggara Youth Community, yang memaparkan kondisi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Dari data lapangan, 3 dari 7 remaja di NTT mengaku pernah melakukan hubungan seksual.

“Ini bukti nyata bahwa perilaku seksual remaja ada, meski isu ini sering dianggap tabu. Maka, edukasi tidak bisa hanya dibebankan pada sekolah. Keluarga, tenaga kesehatan, lembaga agama, hingga komunitas harus ikut ambil peran,” tegas Tata.

Diskusi ini menyimpulkan bahwa generasi muda bukan hanya penerima manfaat, melainkan mitra pembangunan. Mereka harus dilibatkan sejak tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi program, baik melalui konsultasi publik, pemetaan kondisi wilayah, maupun sebagai peer educator di sekolah, kampus, dan lingkungan sosial.

Agar inisiatif ini berkelanjutan, dukungan nyata diperlukan mulai dari pendanaan, ruang aspirasi, hingga mentoring agar gagasan kreatif anak muda bisa diimplementasikan dan memberi dampak luas.

Momentum ini sejalan dengan semangat Hari Remaja Internasional 2025 yang menekankan peran generasi muda dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).

Generasi muda bukan sekadar penerus, tetapi energi perubahan yang menentukan masa depan Indonesia yang lebih sehat, inklusif, dan berdaya saing global.|Guffe*

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.