Peluncuran Buku ‘Selangkah di Belakang Mbak Tutut’: Penuh Makna

banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id – Siti Hardiyanti Rukmana, yang akrab disapa Mbak Tutut Soeharto, putri sulung Presiden kedua RI Soeharto, meluncurkan buku terbarunya berjudul Selangkah di Belakang Mbak Tutut acara istimewa digelar di Ballroom Prajurit, Balai Sudirman, Jakarta, Jumat (15/8). Acara yang disiarkan langsung oleh salah satu tv swasta. Ini menggabungkan peluncuran buku, diskusi publik, dan refleksi sejarah.

Buku yang memuat lebih dari 500 halaman ini mengisahkan perjalanan hidup Mbak Tutut, mulai dari masa kecilnya di Yogyakarta, kiprahnya di dunia bisnis dan politik, hingga perannya sebagai tokoh keluarga Cendana dan penggiat sosial.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

 

Acara peluncuran ini menghadirkan tiga narasumber utama:

1. Prof. Dr. Tria Sasangka Putra, S.H., LL.M., CFE., CLA. – pakar hukum dan sejarah yang mengupas relevansi buku ini terhadap dinamika bangsa.


2. Donna Sita Indria – penulis buku Selangkah di Belakang Mbak Tutut.


3. Danty, putri dari Mbak Tutut, yang memberikan perspektif pribadi tentang peran sang ibu di mata keluarga.

Penulis buku, Donna Sita Indria, mengungkapkan bahwa karya ini disiapkan selama tujuh tahun, dengan lima tahun khusus untuk proses penulisan.

“Buku ini bukan sekadar catatan biografi, tetapi jembatan yang menghubungkan sejarah, peristiwa, dan kondisi bangsa saat ini. Saya ingin menunjukkan kepada publik bahwa ada sosok perempuan Indonesia yang memiliki dedikasi, nilai-nilai luhur, dan peran penting di masanya,” ujar Donna.

Danty menegaskan bahwa buku ini juga merekam sisi humanis dan perjuangan pribadi ibunya, termasuk menghadapi pro dan kontra seputar gelar pahlawan untuk Presiden Soeharto.

“Bagi kami, beliau adalah pahlawan. Pro-kontra itu biasa. Kami berharap pemerintah dapat menimbang jasa beliau secara objektif,” kata Danty.

Selain membahas isi buku, para pembicara juga menyinggung filosofi hidup yang dipegang Mbak Tutut, termasuk nilai Tri Dharma Mangkunegaran: Melu Handarbeni, Melu Hangrungkebi, Mulat Sariro Hangrosowani menumbuhkan rasa memiliki, tanggung jawab, dan kesadaran jati diri nasional.

Prof. Tria Sasangka menilai bahwa buku ini bukan hanya relevan bagi pembaca yang tertarik sejarah politik Indonesia, tetapi juga generasi muda yang ingin belajar dari kisah keteguhan hati seorang tokoh perempuan.

“Karya ini memperlihatkan kesinambungan antara masa lalu dan masa kini. Ada pelajaran kepemimpinan, pengabdian, dan kecintaan pada bangsa,” jelasnya.

Buku Selangkah di Belakang Mbak Tutut tersedia dalam dua jilid, masing-masing setebal 507 dan 479 halaman. Karya ini diharapkan menjadi referensi penting dalam memahami peran Mbak Tutut di panggung politik, bisnis, sosial, serta kehidupan pribadinya yang penuh warna.

Peluncuran ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan DPP Purna Pasma Kirab Remaja Nasional, sekaligus momentum untuk memperkuat dialog publik tentang nilai kebangsaan. Dengan dukungan media televisi dan platform digital, buku ini diharapkan menjangkau pembaca luas, dari generasi senior hingga milenial.***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.