DEPOK, Radarjakarta.id – Pemerintah Kota Depok memasang Early Warning System (EWS) atau alat Peringatan Banjir di lokasi yang rawan banjir.
Kepala Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan Bappeda Kota Depok, Raden Argha Darma Tubagus kepada Jurnal Depok mengatakan pihaknya melakukan sosialisasi penggunaan Alat Peringatan Banjir kepada dua Kelurahan di Kecamatan Beji
“Pemerintah Kota Depok terus memperkuat strategi mitigasi bencana dengan memanfaatkan teknologi inovatif,” katanya
Alat Peringatan Banjir atau EWS berbasis sensor yang mampu memberikan peringatan otomatis melalui sirine dan lampu rotator ketika ketinggian muka air mencapai batas berbahaya.
“Jadi alat kerjanya itu berdasarkan sensor yang memancarkan sinar ultrasonic memantulkan ke permukaan air,” katanya di Kelurahan Pondokcina Kecamatan Beji
Data yang dihasilkan oleh alat tersebut akan dikirim secara teratur melalui aplikasi Telegram.
Pengurus lingkungan di wilayah yang berpotensi terdampak banjir akan membunyikan alarm jika data EWS sudah siaga 3.“Nah jadi untuk ketinggian, ada empat batasan, siaga 4, siaga 3, siaga 2, siaga 1,” ungkapnya.
Jadi ketika masuk siaga 3 itu notifikasi mulai beruntun gitu, awalnya normal itu 1 jam sekali misalkan, nanti untuk siaga 3 itu setengah jam 1 kali, siaga 2 itu 1 menit sekali bahkan per detik,”
Dia menambahkan, sistem ini bekerja otomatis dengan mendeteksi ketinggian air.
Ketika air naik ke level berbahaya, sirine akan berbunyi dan lampu rotator menyala, memberikan tanda bahaya kepada warga sekitar agar dapat segera melakukan langkah antisipasi.
Alat Peringatan Banjir (APB) merupakan perangkat inovatif berbasis sensor yang memberikan peringatan visual dan audio secara otomatis jika ketinggian muka air sudah mencapai batas rawan. Sistem ini akan membunyikan sirine dan menyalakan lampu rotator sebagai tanda bahaya. Saat ini, APB telah dipasang di empat wilayah rawan banjir di Kota Depok, yaitu
Raden Argha menegaskan bahwa program ini tidak hanya fokus pada aspek teknis, tetapi juga mengedepankan nilai pendidikan, keterlibatan warga, dan kesadaran sosial.
APB ini efektif untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan mengajak warga berpartisipasi aktif dalam menghadapi potensi bencana.
Melalui kolaborasi ini, warga tidak hanya menjadi penerima manfaat tetapi juga bagian dari sistem mitigasi bencana, sehingga menciptakan lingkungan yang lebih siap dan tangguh terhadap risiko banjir.
Pemkot Depok berencana untuk memperluas cakupan dan fitur sistem APB ke wilayah lain yang juga berisiko terdampak banjir.
“Kami berencana mengembangkan alat ini dengan menambah fitur dan lokasi pemasangan,” tambah Argha.
Pengembangan alat ini tidak hanya fokus pada fungsi teknis, tetapi juga mengusung nilai pendidikan, inklusi sosial, dan keterlibatan warga.
Menurut Argha, APB menjadi salah satu upaya yang efektif untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat serta membangun partisipasi publik dalam menghadapi bencana. Pemerintah Kota Depok pun berencana untuk memperluas cakupan sistem ini.
“Kami juga berencana mengembangkan alat ini, dengan ditambah fitur dan lokasinya,” tambah Argha.
Sementara itu ketua RW 01 Kelurahan Pondokcina Kecamatan Beji Madin menambahkan lingkungannya merupakan lokasi langganan banjir jika sungai Ciliwung meluap.
“Dengan adanya pemasangan alat EWS atau APB ini maka warganya akan terbantu jika datangnya banjir,” katanya.











