SRAGEN, Radarjakarta.id – Sebuah mural bertema anime One Piece di Dukuh Ndayu, Sragen, yang seharusnya menjadi simbol semangat kemerdekaan generasi muda, justru berakhir dengan penghapusan paksa oleh warga dikawal aparat TNI. Mural bergambar tokoh legendaris Shirohige itu semula dibuat warga sebagai bentuk partisipasi menyambut Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia.
Namun semangat yang dituangkan melalui seni jalanan ini dianggap tak selaras dengan simbol-simbol nasional, dan di bawah pengawasan aparat, mural itu dihapus.
Video yang beredar menunjukkan aparat berseragam mengawasi langsung proses penghapusan mural, yang secara teknis dilakukan oleh warga. Momen ini langsung menyulut gelombang protes di media sosial. Warganet ramai-ramai mempertanyakan: sejak kapan lambang bajak laut fiktif dianggap mengancam negara?
“One Piece belum ditemukan, tapi penggemarnya sudah dianggap makar?” tulis akun @mazzd_1905 di X.
“Ketakutan negara ini kebangetan. Padahal Shirohige bukan simbol pemberontakan, tapi perlindungan,” tambah akun @hidayat_t1010.
Simbol tengkorak berkumis milik Shirohige atau Edward Newgate bagi penggemarnya bukanlah simbol kekerasan. Ia adalah metafora kekeluargaan, keberanian, dan perlindungan. Dalam serialnya, Shirohige justru dikenal sebagai pelindung rakyat tertindas dan musuh dari kezaliman.
Bagi para pemuda di Sragen, mural itu adalah cara merayakan kemerdekaan dengan bahasa yang mereka pahami: visual pop culture. Namun, bagi sebagian aparat, simbol “bajak laut” tetap identik dengan ancaman.
Reaksi keras pun datang dari berbagai tokoh. Advokat dan politisi Gede Pasek Suardika menyebut tindakan aparat sebagai bentuk paranoia yang berlebihan.
“Daripada sibuk menghapus mural anime, lebih baik negara bereskan blunder PPATK dan urus korupsi yang nyata. Shirohige itu cuma ekspresi diam rakyat,” ujarnya.
Fenomena ini memperlihatkan benturan tafsir antara generasi digital dan institusi negara yang masih kaku membaca budaya kontemporer. Di satu sisi, anak muda ingin merayakan kemerdekaan dengan karya. Di sisi lain, negara justru curiga pada bentuk ekspresi yang tak konvensional.
Tak sedikit warganet menyindir tindakan aparat sebagai “kekanak-kanakan” dan “salah fokus”. Apalagi, simbol-simbol One Piece sebelumnya juga sempat jadi polemik di sejumlah wilayah, meski pihak Polda Bali pernah menyatakan bahwa selama tidak melanggar hukum, pengibaran simbol anime tak jadi masalah.
Namun, kasus di Sragen menunjukkan bahwa pemahaman ini belum merata di semua lini.
Di tengah gegap gempita perayaan kemerdekaan, mural Shirohige yang semestinya menyuarakan nilai-nilai keadilan dan kekeluargaan justru dilenyapkan. Padahal, kemerdekaan bukan hanya milik masa lalu. Ia juga harus hidup dalam imajinasi dan semangat zaman ini.
Pertanyaan Terbuka untuk Negeri Ini
Apakah kita benar-benar merdeka jika mural damai bisa diberangus dengan dalih nasionalisme?
Apakah negara ini siap berdialog dengan generasi yang bicara lewat anime, mural, dan media digital?***
Mural One Piece Dihapus: Ketika Semangat Kemerdekaan Gen Z Disalahpahami Negara










