TREN, Radarjakarta.id – TikTok kembali berguncang. Setelah badai viral Andini Permata perlahan reda, muncul sosok baru yang memantik imajinasi jutaan warganet: Nisa, 21 tahun, si “Mama Muda” berparas lugu tapi menggoda.
Dalam video berdurasi kurang dari satu menit, Nisa tampil dalam balutan daster tipis bermotif bunga, dengan sapu di tangan dan serbet menjuntai manja di pundak. Make-up bold, gaya tatapan setengah bingung setengah menggoda, dan dialog jenaka yang menggelitik cukup untuk membuat jutaan pasang mata terpaku.
“Dia? Dia mah mama gue.”
Kalimat yang terdengar biasa itu mendadak terasa sangat berbeda ketika diucapkan dalam skenario penuh kejutan dan atmosfer sensual khas TikTok.
Sensual, Namun Tetap Aman
Yang membedakan tren “Mama Muda” ini dengan tren viral sebelumnya adalah kemampuannya memadukan estetika keibuan dan daya tarik visual yang menggoda, tanpa harus menampilkan hal-hal eksplisit. Ini semacam fantasi sosial yang diramu dalam format hiburan pendek: seorang ibu muda, cantik, lincah, dan terlihat begitu… dekat.
Nisa, dengan akun @_hellonisaa21, sukses meraup lebih dari 8,6 juta tayangan hanya dari satu video. Dalam waktu singkat, pengikutnya melonjak ke angka 45 ribu lebih, dan kolom komentarnya penuh dengan pujian, godaan halus, hingga tawaran endorsement.
Daya Tarik Tak Terucap
Fenomena “Mama Muda” tidak hanya lucu. Ia menyentuh sisi emosional dan sensual dari imajinasi publik. Dalam masyarakat yang sering menempatkan ibu rumah tangga dalam kotak “lelah dan tak menarik,” tren ini hadir bak tamparan pelan: seorang mama bisa tetap muda, stylish, dan bahkan jadi idola TikTok.
Namun, tentu saja tidak semua pihak setuju. Ada yang menyebutnya sebagai normalisasi stereotip perempuan muda sebagai istri atau ibu, ada pula yang khawatir dengan citra perempuan yang semakin dikomodifikasi.
Meski demikian, mayoritas penonton hanya melihatnya sebagai bentuk hiburan ringan yang memicu senyum, tawa, dan, tak bisa dipungkiri, sedikit debar halus di dada.
Daster, Filter, dan Fantasi Sosial
Tren ini memanfaatkan hal-hal yang begitu sederhana: daster, ekspresi lugu, filter TikTok, dan cerita ringan tentang rumah tangga. Tapi di balik kesederhanaannya, tersimpan daya tarik yang sulit dijelaskan dengan logika lebih ke rasa dan imajinasi liar penonton.
“Gue gak nyangka bakal viral segininya. Padahal cuma buat seru-seruan,” ujar Nisa dalam salah satu sesi live-nya yang kini juga ramai disorot.
Tren yang Menggoda Batas Sosial
TikTok memang telah menjadi ruang yang tak lagi netral. Ia mampu menyulap aktivitas rumah menjadi panggung sensual, menjadikan daster sebagai kostum panggung, dan menghadirkan perempuan muda sebagai pusat perhatian baru.
Fenomena “Mama Muda” bukan hanya hiburan. Ia adalah cermin bagaimana budaya digital hari ini memproduksi dan mengonsumsi simbol, seksualitas tersirat, dan daya tarik sosial dalam satu tarikan swipe.***
‘Mama Muda’: Sensasi TikTok yang Menggoda










