JAKARTA, RadarJakarta.id – Produsen supercar asal Italia, Pagani Automobili, resmi menghentikan pengembangan mobil listrik murni (EV) pertamanya setelah delapan tahun riset. Proyek tersebut awalnya dirancang sebagai versi listrik dari Pagani Utopia, namun harus dibatalkan menyusul minimnya minat dari para diler dan pelanggan.
“Tidak ada satu pun yang tertarik,” kata Sebastian Berridi, juru bicara Pagani, dalam wawancara bersama CarBuzz, seperti dikutip Tempo, Sabtu, 20 Juli 2025. “Kami perusahaan keluarga. Proyek ini tidak bisa dilanjutkan tanpa dukungan pasar.”
Pagani diketahui telah membentuk tim khusus dan bekerja sama dengan Mercedes-AMG untuk merancang sistem penggerak listrik. Namun konsep itu dianggap gagal total setelah diperkenalkan kepada jaringan diler dan kolektor mobil eksklusif.
Mesin Konvensional Masih Perkasa
Pagani menegaskan tetap mempertahankan mesin V12 dari AMG yang telah memenuhi standar legalisasi hingga 2030 di Eropa dan 2032 di Amerika Serikat. Mesin ini dinilai masih menjadi roh utama dari supercar Pagani.
“Bagi kami, V12 adalah lambang keindahan teknik. Suara, getaran, dan sensasi mekanisnya adalah sesuatu yang tidak tergantikan,” ujar Berridi.
Pagani juga menutup pintu terhadap opsi hybrid. Teknologi hybrid dinilai terlalu kompleks dan bertentangan dengan filosofi desain murni yang diusung perusahaan.
Supercar Listrik Belum Menarik Pasar
Fenomena serupa juga terjadi di kalangan produsen supercar lainnya. Koenigsegg mengakui pasar untuk hypercar listrik masih sangat terbatas. Rimac, meski sukses mencetak rekor performa dengan Nevera, belum berhasil menjual seluruh 150 unit yang diproduksi.
Di sisi lain, Maserati membatalkan rencana produksi versi listrik dari MC20. Ferrari dan Lamborghini bahkan menunda peluncuran model EV mereka karena lemahnya permintaan global.
Konsumen supercar, menurut para analis, masih mencari pengalaman berkendara yang autentik mulai dari suara raungan mesin, perpindahan gigi manual, hingga interaksi mekanikal yang menjadi ciri khas mobil sport sejati.
Performa Bukan Segalanya
Berridi menegaskan bahwa percepatan instan bukan satu-satunya tolok ukur dalam dunia hypercar. “Ini soal emosi. Mobil kami bukan sekadar alat transportasi, tapi karya seni yang hidup,” katanya.
Pagani membuka kemungkinan untuk kembali menjajaki teknologi listrik di masa depan, namun menegaskan akan menunggu hingga teknologi baterai berkembang ke tahap yang lebih ringan dan efisien. Saat ini, bobot baterai masih menjadi penghambat utama karena mengurangi kelincahan mobil.
Menjaga Identitas di Tengah Tren Elektrifikasi
Di tengah derasnya arus elektrifikasi otomotif global, langkah Pagani menjadi pengecualian menarik. Sementara mayoritas produsen beralih ke EV demi memenuhi regulasi emisi dan tuntutan lingkungan, Pagani memilih setia pada nilai-nilai lama mendahulukan kepuasan berkendara dan keindahan mekanik.
“Ketika semua berlomba menjadi senyap dan otomatis, kami tetap percaya bahwa ada nilai dalam kebisingan, getaran, dan kendali manusia,” tutup Berridi.***
Pagani Batalkan Utopia Listrik, V12 Tetap Jadi Andalan










