JAKARTA, Radarjakart.id – Sebuah gang sempit di jantung Ibu Kota hari ini menjadi saksi semangat perubahan. Kampung Bedeng, RW 01 Cempaka Putih Timur, menjadi lokasi penutupan program Jejak Berdaya, sebuah inisiatif pemberdayaan komunitas akar rumput yang diinisiasi oleh mahasiswa Public Relations LSPR Institute of communication & Business
Puncak acara ditandai dengan peresmian Digital Berdaya oleh Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Zita Anjani, yang menyebut kegiatan ini sebagai potret nyata misi Unlock Indonesia.
“Pemberdayaan tidak hanya soal wisata atau destinasi indah, tapi tentang membangkitkan potensi manusia di balik kisah lokal,” tegas Zita dalam sambutannya.
Zita memuji kolaborasi antara mahasiswa, warga, dan mitra seperti SESAI yang telah menghadirkan program pelatihan e-commerce, lokakarya seni, hingga dokumentasi kisah inspiratif warga. Ia menekankan bahwa kegiatan seperti ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto untuk membangun ekonomi kerakyatan dan industri kreatif berbasis lokal.
Program Jejak Berdaya merupakan bagian dari Kuliah Kerja Lapangan (KKL) II mahasiswa UNJ 2025. Kegiatan ini dirancang sebagai ruang belajar komunitas untuk memperkuat kapasitas warga dalam literasi digital, pengembangan usaha, dan kolaborasi sosial. Pelatihan mencakup penggunaan ponsel pintar, media sosial, hingga keamanan digital — menjadikan teknologi sebagai jembatan kemajuan bagi warga urban.
> “Saya tidak pernah membayangkan bisa tampil di depan umum. Ternyata, kita semua bisa belajar dan bertumbuh bersama,” ungkap seorang peserta pelatihan yang mendapat sambutan hangat dari warga.
Acara penutupan juga menampilkan stan produk warga, pertunjukan seni, dan pameran hasil kampanye sosial yang digagas bersama mahasiswa. Salah satu sorotan utama adalah pemutaran dokumenter “Jejak yang Sempit: Belajar Menjalin Harapan” yang menggambarkan perjuangan warga dalam membangun ruang belajar mandiri.
Penata acara Tirta Nata Adi Wijaya menyampaikan bahwa kegiatan ini dibuka secara partisipatif bersama warga dan tokoh masyarakat. Perwakilan RDRC/SESAI menambahkan bahwa proses pemberdayaan membutuhkan waktu, pendampingan berkelanjutan, dan kolaborasi multi-pihak agar mampu menumbuhkan komunitas yang tangguh dan mandiri.
“Jejak Berdaya adalah pengingat bahwa pembangunan bisa dimulai dari tempat yang sering terlupakan,” ucap salah satu fasilitator.
Turut hadir dalam acara ini para dosen LSPR, finalis Puteri Indonesia 2024, Duta Kampus se-Jakarta, dan warga RW 01 yang menjadi bagian dari proses kolaborasi lintas sektor. LSPR sebagai mitra pendidikan juga menyatakan komitmennya untuk terus menghadirkan inovasi pembelajaran berbasis komunitas.
Dosen LSPR Maylafayza Wiguna menjelaskan bahwa LSPR sebagai institusi pendidikan tinggi unggulan di bidang komunikasi dan bisnis kreatif akan terus mendorong mahasiswanya berperan aktif dalam isu sosial.
Kegiatan diakhiri dengan penyerahan penghargaan kepada para fasilitator, warga inspiratif, dan kontributor terbaik. Simbolisasi penutupan dilakukan dengan pelepasan tanaman lokal Bejong — lambang harapan yang tumbuh dari tanah sendiri.
Dengan Jejak Berdaya, Kampung Bedeng tidak lagi sekadar gang sempit di tengah kota, melainkan titik awal perubahan yang dapat ditiru di berbagai penjuru Indonesia. Seperti disampaikan Zita:
“Bayangkan jika setiap kota punya 100 kampung berdaya — maka Indonesia akan tangguh dari akar rumput.”










