JAKARTA, Radar Jakarta — Dalam atmosfer yang sarat emosi dan nasionalisme, peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) 2025 berubah menjadi panggung sejarah yang membakar semangat kebangsaan. Bertempat di Hotel Azana Suite Antasari, Jakarta, Minggu (1/6/2025), sebuah drama musikal bertema “Ratu Sinuhun dan Jenderal Sudirman” sukses menyulut kembali api perjuangan di hati penonton lintas usia.
Pagelaran ini bukan sekadar hiburan. Ia adalah gerakan kebudayaan. Diprakarsai oleh Srikandi Tenaga Pembangunan (TP) Sriwijaya, dan digarap dengan totalitas oleh Komunitas Lansia Dahlia Senja, pertunjukan ini menghadirkan figur pahlawan lokal Ratu Sinuhun sejajar dengan sosok legendaris Jenderal Sudirman menegaskan bahwa sejarah bangsa bukan milik satu wilayah, melainkan milik seluruh rakyat Indonesia.
Ratna Hapsari: Ratu Sinuhun Layak Jadi Pahlawan Nasional
Sorotan utama tertuju pada Ratna Hapsari, Ketua Umum Komunitas Lansia Dahlia Senja, yang dengan lantang menyuarakan pentingnya mengangkat Ratu Sinuhun sebagai Pahlawan Nasional.
“Beliau bukan hanya tokoh lokal. Ratu Sinuhun adalah simbol perjuangan perempuan dari Sumatera Selatan yang kontribusinya melampaui batas wilayah. Ia layak mendapat tempat di sejarah nasional,” tegas Ratna dalam pidatonya yang menggugah.
Sejarawan yang hadir pun turut mendukung gagasan ini, menyebut pengakuan terhadap tokoh-tokoh daerah seperti Ratu Sinuhun akan memperkaya narasi kebangsaan Indonesia yang selama ini cenderung berpusat pada tokoh-tokoh dari pulau Jawa.
Seni dan Sejarah Menyatu: Aksi Spektakuler di Atas Panggung
Drama musikal ini tak hanya menyentuh sisi historis, tapi juga emosional. Lagu legendaris Gending Sriwijaya mengiringi kemunculan Ratu Sinuhun yang turun ke tengah rakyatnya sambil diiringi bunyi angklung menggambarkan hubungan harmonis antara pemimpin dan rakyat.
Adegan puncak yang membuat merinding adalah ketika Ratu Sinuhun berdiri sejajar dengan Jenderal Sudirman, mengangkat makna kesetaraan dalam kontribusi terhadap kemerdekaan dan persatuan bangsa.
“Kami tidak sedang memaksakan pengangkatan beliau sebagai pahlawan. Kami sedang membuka mata bangsa, bahwa ada tokoh perempuan luar biasa yang pantas dikenang dan dihargai,” ucap Ratna penuh semangat.
“Menagih Janji”: Lagu Persatuan yang Menggetarkan
Selain drama musikal, Ratna Hapsari mempersembahkan lagu ciptaannya berjudul “Menagih Janji”, terinspirasi dari sila ketiga Pancasila: Persatuan Indonesia. Lagu ini tidak hanya enak didengar, tapi menyimpan pesan mendalam.
“Sering kita bicara soal persatuan, tapi seberapa sungguh kita menjalankannya? Lagu ini saya tulis sebagai pengingat, bahwa Pancasila bukan sekadar hafalan, tapi harus jadi laku hidup,” ungkap Ratna.
Lansia, Garda Terdepan Pelestari Nilai Bangsa
Menariknya, seluruh pertunjukan ini digarap oleh 25 anggota Komunitas Lansia Dahlia Senja, mayoritas tanpa latar belakang seni formal. Namun semangat dan cinta tanah air menjadikan mereka tampil memukau.
“Kami berasal dari akar rumput. Tak semua tahu not balok, tapi semua punya hati dan tekad. Usia bukan alasan untuk berhenti berkarya bagi bangsa,” ujar Ratna haru.
Acara ini menjadi bukti nyata bahwa lansia bukan hanya pewaris sejarah, tapi juga pelestari budaya dan penjaga nilai-nilai kebangsaan. Bahkan, penonton mancanegara yang pernah menyaksikan pertunjukan serupa mengaku terharu.
GALERI MOMEN HLUN 2025
Ratu Sinuhun dan Jenderal Sudirman berdiri berdampingan di akhir pertunjukan simbol perjuangan yang setara dalam sejarah bangsa.
Ratna Hapsari menyanyikan “Menagih Janji” lagu yang menyerukan persatuan Indonesia dengan cara yang menggetarkan hati.
HLUN 2025 membuktikan bahwa sejarah bisa hidup kembali bukan lewat buku, tapi lewat panggung, lagu, dan air mata haru. Ratna Hapsari dan para lansia membuktikan: Indonesia tidak akan pernah kehilangan penjaga jiwanya. | Guffe*
Drama Musikal HLUN 2025 Angkat Ratu Sinuhun ke Panggung










