Fauzan Luthsa, pengamat dari Strategi Institute
RADAR JAKARTA | Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali jadi sorotan panas. Sejumlah kebijakan yang diterapkan dianggap tidak menyentuh akar persoalan dan justru bisa merusak kepercayaan investor terutama dari luar negeri.
Salah satu kebijakan yang jadi bahan kritikan tajam adalah penerapan Full Call Auction (FCA) untuk saham-saham yang masuk daftar Unusual Market Activity (UMA). Walau hanya berlaku tujuh hari, dampaknya besar: saham yang terkena FCA langsung dicoret dari pertimbangan penyedia indeks global seperti MSCI.
Prof. Budi Frensidy, pakar pasar modal dari Universitas Indonesia, menyebut BEI perlu melakukan evaluasi mendalam alih-alih berharap MSCI melunak.
“Jangan berharap standar global yang berubah. Justru kita yang harus berbenah,” ujarnya.
Fauzan Luthsa, pengamat dari Strategi Institute, bahkan lebih tajam dalam menyoroti.
“Kalau FCA bisa membuat saham terlempar dari indeks selama berbulan-bulan, berarti ada yang salah dari strukturnya. BEI harus menyesuaikan diri dengan praktik internasional,” katanya.
Tak berhenti di situ, Fauzan juga menyoroti kebijakan free float dan syarat keuangan dalam IPO yang sedang dikaji ulang oleh BEI. Menurutnya, itu hanya solusi tambal sulam jika masalah utama seperti suspensi saham dan transparansi indeks tidak segera dibenahi.
Indeks LQ45 dan IDX High Dividend 20 juga tak luput dari kritik.
Contohnya, saham PT Mitra Pack Tbk (PTMP) pernah masuk LQ45 meski tak memenuhi syarat likuiditas. Bahkan, saham TPIA dan BRPT masuk dalam indeks dividen meski sudah bertahun-tahun tidak membagikan dividen.
“Ini menimbulkan pertanyaan besar. Apakah indeks kita benar-benar objektif dan transparan?” tegas Fauzan.
Langkah BEI membentuk unit khusus untuk mendampingi perusahaan besar menuju IPO juga dinilai menciptakan ketimpangan.
“Perusahaan kecil dan menengah juga butuh pendampingan. Jangan hanya fokus ke yang besar,” tambahnya.
Dengan target ambisius 66 IPO di tahun 2025, namun baru 14 tercatat hingga pertengahan Mei, Fauzan meragukan target ini bisa tercapai.
“Kalau hanya mengandalkan lima emiten besar, bagaimana dengan puluhan lainnya?” tanyanya.
Peringatannya tajam:
“Waktu tinggal tujuh bulan. Masih ada 52 IPO yang harus dikejar. Jangan sampai BEI kembali gagal seperti tahun lalu.”
(*)











