Haidar Alwi: Peran, Sumber Daya, dan Teknologi Metalurgi Ekstraktif untuk Unsur Tanah Jarang (REE)

banner 468x60

RADAR JAKARTA | Jakarta — Keberadaan Rare Earth Elements (REE) atau unsur tanah jarang semakin menarik perhatian publik global. Di tengah transisi menuju energi bersih dan perlombaan teknologi tinggi antarnegara, REE menjadi komoditas strategis yang diperebutkan banyak kekuatan besar dunia. Ironisnya, meski Indonesia diperkirakan memiliki potensi REE dalam jumlah besar, isu ini belum menjadi prioritas utama dalam kebijakan nasional.

R. Haidar Alwi, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, mengingatkan bahwa Indonesia harus segera bangun dari tidur panjang. Menurutnya, REE adalah “senjata masa depan” bukan berbentuk peluru, tetapi mampu menentukan arah kekuasaan ekonomi, pertahanan, dan inovasi teknologi global.

“Kita terlalu sering menjadi eksportir mentah dan penonton dari revolusi industri global. Kini, di tangan kita ada bahan dasar peradaban digital dan energi masa depan. Kita tidak boleh lengah,” ujar Haidar Alwi (5/5/2025).

Logam Kecil, Dampak Global Besar

REE adalah kelompok 17 unsur dalam tabel periodik yang digunakan dalam berbagai teknologi mutakhir, seperti mobil listrik, turbin angin, baterai energi baru, radar militer, dan satelit komunikasi. Dalam industri pertahanan, satu unit jet tempur modern seperti F-35 bahkan membutuhkan lebih dari 400 kg REE.

Meski disebut “tanah jarang”, unsur-unsur ini sebenarnya tidak terlalu langka dari sisi jumlah. Namun, keberadaan dalam bentuk murni dan konsentrasi ekonomis yang rendah menjadikannya sulit ditambang dan mahal, serta sulit digantikan. Negara-negara seperti Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, dan Uni Eropa berlomba mengamankan pasokan dari wilayah-wilayah potensial.

Indonesia dan Potensi yang Tersembunyi

Berbagai riset dan data geologi menunjukkan bahwa Indonesia menyimpan cadangan REE yang signifikan. Beberapa wilayah utama antara lain:

  1. Bangka Belitung – Mengandung monazite, mineral pembawa REE yang umum ditemukan sebagai ikutan tambang timah.
  2. Kalimantan Barat dan Tengah – Diketahui memiliki mineral xenotime, pembawa REE lainnya yang sangat potensial.

Diperkirakan, cadangan bijih xenotime di Indonesia melebihi 6,4 miliar ton, sementara cadangan monazite terukur mencapai lebih dari 52 juta ton.

“Negara lain sibuk berebut, kita justru belum menyentuhnya secara serius. Ini salah satu aset yang bisa mengubah posisi geopolitik Indonesia,” tegas Haidar Alwi.

Teknologi Ekstraktif: Hambatan atau Peluang?

Pengolahan REE bukan perkara mudah. Diperlukan proses kompleks seperti cracking mineral refraktori, pelindian kimiawi, hingga pemurnian ion secara presisi.

Tantangan terbesar adalah kandungan unsur radioaktif seperti thorium dan uranium dalam mineral REE. Oleh karena itu, teknologi pengolahan dan sistem penanganan limbah yang aman dan ketat sangat diperlukan.

Namun, Haidar Alwi menilai tantangan tersebut seharusnya menjadi panggilan untuk:

  • Membangun pusat riset nasional.
  • Mendorong transfer teknologi.
  • Menyiapkan SDM unggul dalam bidang metalurgi, geologi, dan kimia industri.

Lebih dari Sekadar Tambang: Komoditas Strategis

REE bukan sekadar sumber daya untuk industri sipil. Ia menjadi faktor penentu strategi militer dan kedaulatan energi. Dalam berbagai dokumen pertahanan negara-negara Barat, REE dikategorikan sebagai critical raw material, setara dengan minyak dan gas.

Indonesia, yang terletak strategis di jalur Indo-Pasifik, harus menyadari bahwa REE adalah bagian dari perebutan pengaruh global. Haidar Alwi mengingatkan bahwa jika tidak dikelola sendiri, Indonesia berisiko terus bergantung pada negara lain dalam pemenuhan teknologi vital.

Menuju Hilirisasi dan Kemandirian Teknologi

Haidar Alwi menyoroti kegagalan masa lalu Indonesia dalam hilirisasi. Mineral diekspor dalam bentuk mentah, dan nilai tambah justru dinikmati negara lain.

Ia menekankan pentingnya membangun:

  1. Pabrik pemurnian REE (smelter teknologi tinggi).
  2. Industri magnet permanen dalam negeri.
  3. Kemitraan global yang adil dengan transfer teknologi.

“Bayangkan jika kita bisa memproduksi baterai, turbin, atau radar di dalam negeri. Kita tidak hanya mengekspor logam, tapi juga teknologi.”

Strategi Nasional REE: Rumus R-E-E

Sebagai langkah konkret, Haidar Alwi mengajukan “Rumus Strategi Nasional REE”:

  • R – Riset: Bangun pusat riset dan pengembangan REE dengan dukungan penuh negara.
  • E – Eksplorasi: Pemetaan potensi REE dari Aceh hingga Papua.
  • E – Ekstraksi: Kembangkan teknologi pengolahan yang efisien dan ramah lingkungan.

Model ini dinilai lebih aplikatif daripada sekadar pembentukan badan formal, karena menyentuh langsung ekosistem riset, industri, dan teknologi.

Kedaulatan Bukan Sekadar Retorika

Haidar Alwi menyampaikan pesan yang penuh makna:

“Jika kita gagal mengelola REE hari ini, kita akan mengemis teknologi di masa depan. Tapi jika kita berani berdiri sendiri, REE bisa menjadi gerbang menuju Indonesia yang benar-benar berdaulat secara ekonomi, energi, dan ilmu pengetahuan.”

Menurutnya, kedaulatan harus diwujudkan dalam kebijakan, regulasi, dan keberpihakan terhadap kepentingan nasional jangka panjang.

Di tengah ketidakpastian global, Indonesia dihadapkan pada satu pilihan besar: menjadi lumbung REE dunia yang dikuasai asing, atau menjadi poros kekuatan teknologi Asia yang berdiri di atas kekuatan sumber dayanya sendiri.

Langkah awal hanya bisa diambil jika pemerintah, industri, dan akademisi duduk bersama dan bertindak sekarang bukan nanti.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.