Rapat Tingkat Menteri: Jaksa Agung Fokus pada Pencegahan Korupsi dan Devisa

Rapat Tingkat Menteri di Gedung Utama Kejaksaan Agung, Jakarta.
banner 468x60

Radarjakarta.id|JAKARTA-Dalam langkah strategis mendukung tata kelola pemerintahan yang baik dan meningkatkan penerimaan devisa negara, Kejaksaan Agung menggelar rapat tingkat Menteri di gedung utama Kejaksaan Agung, Jakarta. Acara ini membahas program Desk Koordinasi Pencegahan Korupsi dan Perbaikan Tata Kelola serta Desk Koordinasi Peningkatan Penerimaan Devisa Negara.

Jaksa Agung Burhanuddin menyampaikan, pembentukan kedua desk ini merupakan implementasi arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat pemerintahan yang bersih, akuntabel, dan transparan. Meski baru dibentuk pada November 2024, kedua desk telah menunjukkan kinerja signifikan.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

“Kinerja yang ditunjukkan kedua desk ini sangat membanggakan. Ini langkah nyata untuk mendukung stabilitas ekonomi dan tata kelola pemerintahan yang baik,” ujar Jaksa Agung.

Fokus Strategi Desk Koordinasi

Desk Pencegahan Korupsi dan Tata Kelola berfokus pada sinergi antarlembaga untuk mencegah tindak pidana korupsi serta memberikan pendampingan kepada BUMN dan lembaga negara dalam tata kelola bisnis. Sementara itu, Desk Peningkatan Penerimaan Devisa bertugas memperkuat pengawasan terhadap penerimaan devisa dari ekspor, impor, dan jasa, serta menyusun kebijakan inovatif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Kejaksaan, melalui berbagai bidang, telah mengambil langkah konkret. Dalam ranah perdata, Kejaksaan memberikan pendampingan kepada BUMN untuk mencegah tindak pidana korupsi. Di sektor sumber daya alam, Kejaksaan turut aktif dalam pembenahan tata kelola industri kelapa sawit, termasuk menyusun kebijakan satu peta tematik perkebunan.

Pencapaian dan Tantangan

Sejak Oktober hingga Desember 2024, Kejaksaan berhasil mengamankan 89 proyek pembangunan prioritas nasional, 28 proyek Ibu Kota Nusantara (IKN), dan 1.120 proyek prioritas daerah. Hal ini bertujuan memastikan optimalisasi penerimaan negara dan memperkuat ketahanan ekonomi.

Namun, tantangan besar masih membayangi. Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia stagnan di angka 34 pada 2024, dengan peringkat turun dari posisi 110 ke 115 dunia. Jaksa Agung menegaskan pentingnya langkah pencegahan yang lebih efektif.

“Korupsi adalah musuh bersama. Inisiatif ini merupakan langkah nyata untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan mewujudkan visi Indonesia Emas 2045,” ujar Burhanuddin.

Hasil Rapat: Lima Poin Penting

  1. Efek Jera dan Stabilitas Ekonomi: Penegakan hukum harus menghasilkan efek jera tanpa mengganggu belanja pemerintah.
  2. Transformasi Digital: Pemanfaatan teknologi seperti e-katalog dan e-government perlu didorong untuk meminimalkan peluang korupsi.
  3. Prioritas Pemulihan Aset: Kerja sama internasional harus ditingkatkan untuk mengembalikan aset hasil korupsi yang disembunyikan di luar negeri.
  4. Efisiensi Penanganan Kasus: Biaya penegakan hukum harus seimbang dengan nilai aset yang dipulihkan.
  5. Pengelolaan Narasi Publik: Komitmen pemerintah harus ditampilkan secara tegas dan transparan untuk menjaga kepercayaan masyarakat.

Dukungan Lintas Sektor

Rapat ini dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi, termasuk Menko Polhukam Jenderal (Purn) Budi Gunawan, Menteri Komunikasi Meutya Hafid, hingga Wakil Ketua KPK Agus Joko Pramono. Mereka menyampaikan dukungan penuh untuk memastikan keberhasilan program-program yang telah dirancang.

Dengan kolaborasi yang kuat, Indonesia diharapkan dapat mewujudkan pemerintahan yang bersih dan stabilitas ekonomi demi tercapainya cita-cita bangsa.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.