RADAR JAKARTA | Jakarta – Aksi unjuk rasa menolak Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (UU TNI) di Kota Malang berujung ricuh. Bentrokan antara massa dan aparat kepolisian menyebabkan sejumlah demonstran terluka dan ditangkap pada Minggu malam (23/3/2025).
Aksi Damai Berujung Kericuhan
Demonstrasi yang berlangsung di depan Gedung DPRD Kota Malang sejak sore hari awalnya berjalan kondusif. Massa yang mengatasnamakan Arek-Arek Malang menggelar orasi, aksi teatrikal, serta membentangkan spanduk berisi penolakan terhadap UU TNI. Mereka juga mencorat-coret jalan dengan berbagai pesan protes.
Namun, situasi mulai memanas setelah waktu berbuka puasa. Massa aksi membakar berbagai benda, termasuk ban bekas dan seragam tentara, di depan gerbang DPRD Kota Malang.
Puncak kericuhan terjadi sekitar pukul 18.15 WIB. Beberapa demonstran melempar bom molotov dan petasan ke arah Gedung DPRD Kota Malang. Salah satu molotov mendarat di teras gedung, menyebabkan kobaran api. Selain itu, dua bangunan di sisi timur gedung turut dibakar.
Aparat keamanan dari Polresta Malang Kota, Kodim 0833/Kota Malang, dan Satpol PP yang sudah bersiaga sejak awal kemudian bertindak membubarkan massa. Gas air mata dan water cannon digunakan untuk mengurai kerumunan yang mulai bergerak ke arah Jalan Kahuripan dan Jalan Suropati.
Sejumlah Demonstran Terluka dan Ditangkap
Koordinator Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pos Malang, Daniel Siagian, menyatakan pihaknya tengah membantu evakuasi terhadap demonstran yang terluka serta menginventarisasi mereka yang ditangkap polisi.
“Saya masih evakuasi massa aksi yang luka dan ditangkap. Jumlahnya masih diinventarisir,” ujar Daniel kepada CNN Indonesia pada Minggu malam.
Respons DPRD dan Pihak Keamanan
Wakil Ketua DPRD Kota Malang, Rimzah, menyesalkan tindakan anarkis yang terjadi dalam aksi tersebut. Ia mengklaim bahwa pihaknya telah siap menemui massa untuk berdiskusi terkait tuntutan mereka.
“Prinsipnya kami siap berdialog dengan massa aksi, baik di dalam gedung maupun di luar. Sayangnya, saat koordinasi dilakukan, tidak ditemukan titik temu,” katanya.
Rimzah juga menduga bahwa kericuhan ini dipicu oleh oknum tertentu yang telah mempersiapkan bahan peledak dan provokasi sebelumnya.
“Setelah buka puasa, mereka melancarkan aksi ini. Artinya, sudah ada niat yang tidak baik,” tambahnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi mengenai siapa yang memulai pembakaran atau apakah ada pihak luar yang terlibat dalam provokasi aksi tersebut. Polisi masih melakukan penyelidikan terkait insiden tersebut. (*)
Demo Tolak UU TNI di Malang Ricuh, Massa dan Polisi Bentrok, Sejumlah Orang Terluka dan Ditangkap
